Makanan Cacing

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa suatu ketika Allah SWT memerintahkan malaikat Jibril AS agar ia turun ke bumi, untuk menanyakan kepada makhluk-makhluk bumi tentang perasaan dan tanggapan mereka karena telah diciptakan oleh Allah di muka bumi ini, syukurkah mereka...? atau bahkan sebaliknya...? serta merta berangkatlah Jibril ke bumi untuk investigasi sebagaiman perintah AllahSWT.
dicertikan, makluk pertama yang ditemu Jibril saat itu adalah seekor kerbau, "apakah kamu bersyukur dijadikan kerbau oleh Allah..?" tanya Jibril pada kerbau tanpa basa-basi. karena tahu yang nanya adalah malaikat, maka sikerbau menjawab pertanyaan itu dengan penuh kejujuran. "aku sangat bersyukur, wahai malaikat". "benarkah..?", sergah malaikat, "bagaimana kamu bisa bersyukur, sementara kamu, dekil, jelek, bahkan kamu jadi jargon di kalangan manusia untuk sebuah kebodohan, mereka bilang kalau ada kebohongan itu mesti seperti kamu (plonga-plongo koyo kebo...). "biarlah", kerbau menganggapi.." yang penting, intinya aku bersyukur pada Allah SWT meskipun aku seperti yang kamu sampaikan tadi. lihatlah aku sekarang tengah mandi di air danau yang begini jernih dan segar... aku gak bisa bayangkan kalo aku dijadikan oleh Allah seperti, itu lihat....! seperti kelelawar", jawab si kerbau penuh penjelasan..."kenapa dengan kelelawar", timpal malaikat.
"dia (kelalawar) itu mandi dengan air kencingnya sendiri. sementara aku bisa mendi dengan air jernih dan menyejukan di danau ini".


setalah mendapat jawaban dari si kerbau, akhirnya Jibril berangkat m
enuju kelelawar, untk bertanya sebagaimana pertanyaan yang dilontarkan kepada si-kerbau.
"apakah kamu bersyukur, wahai kelelawar..! dijadikan oleh Allah seperti ujudmu sekarang?". dengan tegas pula si kelelawar menjawab bahwa ia bersyukur atas ujudnya yang seperti itu, meskipun ia harus mandi dengan air kencingnya sendiri, sebagaimana pernyataan si kerbau. "apa yang menyebabkan kamu bersyukur?", tanya malaikat. kelelawar menjawab; "lihatlah diriku, aku bisa terbanga kemanapun aku mau, aku bisa menikmati indahnya pemandangan dari angkasa, aku gak bisa bayangkan, kalau aku dijadikan oleh Allah seperti makhluk dibawah itu (sambil menunjuk kepada cacing), ia hanya bisa merambat ditanah, digot-got, selokan, ditempat-tempat becek, jorok dan kotor....eihhh...jijik. jangankan terbang seperti aku, berjalan pun ia gak mampu, karena ia tdk punya kaki...."jawab si kelelawar.
setelah mendengar jawaban kesyukuran dengan penjelasan yang panjang lebar dari si kelelawar, akhirnya malaikat Jibril menuju ke cacing...
pertanyaan yang sama juga di tanyakan kepada sicacing, begitu juga jawaban yang sama keluar dari mulut si cacing yang hina dan lemah itu...ia menjawab; " aku sangat bersyukur dijadikan oleh Allah SWT menjadi seekor cacing, meskipun aku jorok, lemah, dan dekil, tapi aku tak pernah lupa untuk selalu memanjatkan syukur kehadirat Allah... aku lebih senang jadi cacing dari pada jadi seorang manusia".. betapa terkejutnya Jibril mendengan jawaban tulus si cacing. terbersit penasaran dalam hati Jibril, seraya berkata; "lha kenapa? bukankah manusia, makluk paling mulia di bumi?".
si cacing menjawab dengan penuh semangat, "lihatlah manusia itu, dia oleh Allah SWT dilengkapi dengan segalanya, ya SEGALANYA, namun banyak dari mereka yang ingkar, sombong, banyak yang lupa syukur dan banyak yang malah bermaksiat kepada Dzat yang Maha Agung, yang telah memenuhi segala kebutuhannya. maka, nanti, duhai malaikat...! merekan akan aku santap, mereka akan aku jadikan makananku, kelak jika mereka dikubur...". terperanjatlah malaikat dengan jawaban itu. sampai disinilah pengembaran malaikat dalam rangka investigasi terhadap makhluk bumi...

sahabatku yang dimuliakan oleh Allah. dari cerita diatas, betapa manusia hanyalah calon makanan cacing... maka sangat ironis, bila manusia menyombongkan diri mereka. mereka lupa bahwa segala yang mereka miliki, adalah amanah dan pinjaman dari Allah SWT, yang nantinya akan dikembalikan kepada empunya, bahkan harus dipertanggungjawabkan dihadapan-Nya. masih pantaskah kita, sebagai manusia yang lemah ini untuk somboh, congkak dan angkuh...?

Beberapa panduan Imam Al- Ghazali supaya kita tidak bersifat sombong dan angkuh
Jika berjumpa dengan kanak-kanak, anggaplah kanak-kanak itu lebih mulia daripada kita, karena kanak-kanak ini belum banyak melakukan dosa daripada kita.
Apabila bertemu dengan orang tua, anggaplah dia lebih mulia daripada kita karena dia sudah lama beribadat.
Jika berjumpa dengan orang alim, anggaplah dia lebih mulia daripada kita karena banyak ilmu yang telah mereka pelajari dan ketahui.
Apabila melihat orang jahil, anggaplah mereka lebih mulia daripada kita karena mereka membuat dosa dalam kejahilan, sedangkan kita membuat dosa dalam keadaan mengetahui.
Jika melihat orang jahat, jangan anggap kita lebih mulia karena mungkin satu hari nanti dia akan insaf dan bertaubat atas kesalahannya.
Apabila bertemu dengan orang kafir, katakan didalam hati bahwa mungkin pada suatu hari nanti mereka akan diberi hidayah oleh Allah dan akan memeluk Islam, maka segala dosa mereka akan diampuni oleh Allah.

0 komentar:

Posting Komentar