BERGERAKLAH…..TUAI BERKAH…..!


BERGERAKLAH….TUAI BERKAH…!
 Suatu ketika, kiyai saya pernah mengatakan: janganlah kita terjebak oleh kesalahan atau musibah yang tengah menimpa kita, hingga akhirnya kita bersikap pasif karenanya, justru jadikanlah kesalahan itu sebagai batu pijakan untuk melangakah kearah yang lebih baik dan jadikanlah musibah yang tengah menimpa kita sebagai guru terbaik yang mengajari kita akan hikmah dibalik setiap kejadian yang menimpa kita. Lebih jauh kiyai saya berpesan : “BERGERAKLAH TERUS, KARENA DALAM GERAKAN ADA BERKAH DAN HIKMAH”
Tidak berlebihan kiranya, jika petuah adiluhur diatas kita jadikan sebagai motto dan pedoman hidup kita untuk menapaki dan menorehkan tinta emas dalam lembaran-lembaran sejarah hidup kita. Hidup kita tengah dan terus berproses, lembaran demi lembaran dari buku sejarah kita tengah terurai, maka tetaplah optimis, optimis dan terus optimis. BERGERAKLAH…..TUAI BERKAH…!
hati yang patah karena salah bukan merupakan satu dalih untuk melangkah dengan goyah tapi jadikan peringatan agar langkah tak kembali salah demi menuju masa depan yang lebih cerah”…tersebutlah dalam suatu kisah:
Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Sementara si petani, sang pemilik keledai tersebut, memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun karena berbahaya. Jadi tidak berguna menolong si keledai. Ia mengajak tetangganya untuk membantunya. Mereka membawa sekop, cangkul dan berbagai peralatan lainnya dan akhirnya mereka mulai menggali, menyekop tanah ke dalam sumur.

Beribadah karena syukur

Menghadapi situasi krisis dan carut-marutnya kondisi kita seperti saat ini, tidak sedikit orang yang kemudian tersadar, kembali ke jalan agama. Mereka yang selama ini tidak pernah menginjakkan kakinya di masjid, tiba-tiba rajin melaksanakan shalat. Mereka baru mengerti bahwa ada kekuatan di luar dirinya yang Maha untuk merubah segalanya.
Sebaliknya, ada sebagian orang yang justru frustrasi kemudian lari dari agama. Bahkan yang biasanya rajin melaksanakan berbagai amalan ibadah, tiba-tiba malas-malasan. Sedikit demi sedikit beberapa amalan ditinggalkan hingga suatu ketika semua amal ibadah telah terlupakan. Mereka merasa seluruh amal ibadahnya sia-sia, sebab tidak memperoleh apa-apa kecuali kebangkrutan usaha, mereka tidak sadar betapa tinggi dan luhurnya nilai ibadah, hingga pada akhirnya mereka melihat ibadah dengan kaca mata keuntungan pribadi yang sempit
Ali Bin Abi Thalib RA membagi amalan ibadah kaum muslimin ke dalam 3 katagori. Pertama, golongan orang yang beribadah karena mengharapkan sesuatu dari Allah swt. Ia beribadah karena pamrih. Golongan itu dikatagorikan sebagai ibadatut-tujjaar, ibadahnya pedagang. Dalam prinsip ekonomi, seseorang melakukan usaha dimaksudkan untuk mendapatkan untung. Jika perlu dengan pengorbanan yang sedikit mendapatkan hasil yang banyak. Demikian pula dalam hal ibadah, mereka pilih-pilih di antara ibadah yang paling banyak mendatangkan keuntungan. Itulah sebabnya mereka tampak sibuk menghitung-hitung amalan ibadahnya. Dibawanya tasbih ke mana-mana, diputar sambil komat-kamit hingga berhenti sampai hitungan tertentu. Ketika ditanya kenapa berhenti berdzikir, ia menjawab, berdasarkan hitungan ia telah membaca seribu kali. Jika sekali membaca diberi ganjaran sepuluh, maka ia telah mendapatkan pahala sebanyak sepuluh ribu. Suatu keuntungan yang bisa ditabung untuk hari itu.

Menuju ulama' intelek...!

Muslim Gaptek...no..!
Muslim Inovatif dan Kreatif....Yesssss!

Gagap Teknologi? gak la yaw,... mandek n kesulitan ngungkapin ide? Sorry, kayak gituan kita kudu buang jauh-jauh. afwan alfu alfin, kata para santri indigo. Bagaimana caranya kita bisa jadi muslim yang inovatif dan kreatif yang bisa menjadi harapan umat, juga sebagai upaya meningkatkan ujud manusiawi kita, yang nota bene sebagai khalifah Allah di muka bumi ini.... bagaimana caranya...?
berikut beberapa point yang kami dapat serap dalam pelatihan "SANTRI INDIGO-Internet sebagai sarana syi@r digital" yang diselenggarakan selama 2 hari (23-24 Maret 2010) di Kampus Pondok Modern Darussalam Gontor II, Madusari Ponorogo. pelatihan yang terselenggara berkat kerja sama Telkom Indonesia dan Harian Umum Republika. point-point itu adalah:

Makanan Cacing

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa suatu ketika Allah SWT memerintahkan malaikat Jibril AS agar ia turun ke bumi, untuk menanyakan kepada makhluk-makhluk bumi tentang perasaan dan tanggapan mereka karena telah diciptakan oleh Allah di muka bumi ini, syukurkah mereka...? atau bahkan sebaliknya...? serta merta berangkatlah Jibril ke bumi untuk investigasi sebagaiman perintah AllahSWT.
dicertikan, makluk pertama yang ditemu Jibril saat itu adalah seekor kerbau, "apakah kamu bersyukur dijadikan kerbau oleh Allah..?" tanya Jibril pada kerbau tanpa basa-basi. karena tahu yang nanya adalah malaikat, maka sikerbau menjawab pertanyaan itu dengan penuh kejujuran. "aku sangat bersyukur, wahai malaikat". "benarkah..?", sergah malaikat, "bagaimana kamu bisa bersyukur, sementara kamu, dekil, jelek, bahkan kamu jadi jargon di kalangan manusia untuk sebuah kebodohan, mereka bilang kalau ada kebohongan itu mesti seperti kamu (plonga-plongo koyo kebo...). "biarlah", kerbau menganggapi.." yang penting, intinya aku bersyukur pada Allah SWT meskipun aku seperti yang kamu sampaikan tadi. lihatlah aku sekarang tengah mandi di air danau yang begini jernih dan segar... aku gak bisa bayangkan kalo aku dijadikan oleh Allah seperti, itu lihat....! seperti kelelawar", jawab si kerbau penuh penjelasan..."kenapa dengan kelelawar", timpal malaikat.
"dia (kelalawar) itu mandi dengan air kencingnya sendiri. sementara aku bisa mendi dengan air jernih dan menyejukan di danau ini".

Ikhlas sebagai landasan amal

Hati yang bersih akan melahirkan keikhlasan. Satu upaya batin yang hanya dengannya Allah akan menerima sebuah amalan. Hati yang bersihlah yang akan melahirkan pribadi-pribadi yang ikhlas. Pribadi yang hanya mengharapkan ridha Allah sebagai imbalan atas ibadahnya.
Kalau sebuah amalan ternodai keikhlasannya, maka amalan tersebut tidak diterima. Demikian pendapat ulama yang mengatakan bahwa syarat diterimanya sebuah amal ibadah adalah bila amal itu dilakukan dengan ikhlas mengharap ridha Allah semata, dan yang kedua adalah amalan itu dilakukan berdasarkan syariat yang telah ditentukan Allah atau pun sunnah dari Rasulullah Muhammad SAW.